Setiap orang tua memiliki cara sendiri dalam mendidik anak-anaknya. Menjaga dan melindungi anaknya merupakan naluri yang dimiliki oleh orang tua. Bahkan ada lho orang tua yang selalu melindungi anaknya dari permasalahan-permasalahan kecil yang seharusnya bisa anak atasi sendiri.
Pernah nggak sih Bunda terlalu kuatir saat anak kesekolah dan Bunda selalu menelepon guru kelas untuk memastikan kondisi si anak? Atau pernah nggak sih Bunda selalu mengantar jemput anak ke sekolah walaupun anak sudah besar?
Nah sikap Bunda yang seperti ini bisa jadi masuk ke pola asuh Helicopter Parenting Lho. Mungkin belum banyak yang tahu apa itu pola asuh ini.
Apa itu pola asuh Helicopter Parenting?
Helicopter Parenting merupakan salah satu pola asuh orang tua yang terlalu fokus atau over-protective terhadap anaknya. Tipe orang tua yang seperti ini biasanya memegang kendali penuh terhadap kehidupan anak, termasuk keinginan dan keputusan yang seharusnya ia putuskan sendiri. Selain itu, orang tua juga terlalu melindungi si anak dari kesulitan dan kegagalan.
Itulah sebabnya, gaya pengasuhan ini disebut Helicopter Parenting, karena layaknya helicopter yang melayang-layang diudara. Orang tua yang menganut gaya pengasuhan ini cenderung ‘berputar-putar’ mengitari anaknya alias over-protective. Apapun yang menjadi keputusan anak akan ditentukan oleh keputusan orang tuanya. Keputusan dari orang tua dianggap lebih baik.
Apa saja sih ciri-ciri orang tua yang menerapkan pola asuh Helicopter Parenting ini?
- Ikut campur urusan anak
Orang tua selalu mencampuri urusan anak. Bahkan sampai dikehidupan sosial anak dengan yang lainnya. Misalnya, orang tua akan menghampiri dan memarahi teman si anak ketika mereka berkelahi atau justru menghubungi orangtua anak tersebut untuk meminta maaf padahal belum tentu anak tersebut yang salah.
- Merasa kuatir yang berlebihan
Orang tua selalu merasa kuatir dengan si anak di manapun anak berada. Misalnya tidak memperbolehkan si anak bermain dengan teman sebayanya karena takut jika anak akan jatuh.
- Selalu mengontrol kehidupan anak
Orang tua selalu mengontrol kehidupan anak. Baik itu kehidupan si anak sehari-hari dan selalu memberikan keputusan untuk si anak. Misalnya, orang tua memilihkan teman yang cocok untuk bisa dekat dengan si anak.
- Mengerjakan PR anak
Salah menjawab soal pada tugas rumah yang diberikan pada anak adalah hal yang wajar. Disitulah proses belajar terjadi. Namun pada tipe pengasuhan helicopter, orangtua tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Biasanya akan mengerjakan ulang PR anak atau bahkan tidak membiarkan ia mengerjakan sendiri tugasnya demi mendapatkan nilai yang sempurna.
Lalu bagaimana efek ke depannya yang akan terjadi jika orangtua menerapkan pola asuh ini ke anak?
- Anak menjadi manja dan tidak mandiri
Kecenderungan orangtua dalam membantu setiap masalah yang sedang dihadapi oleh anak adalah lambat laun si anak akan menjadi pribadi yang manja dan malas untuk berusaha sehingga menjadi tidak mandiri. Mereka dengan mudah beranggapan bahwa orangtuanya pasti akan membantunya. Hal ini membuat anak tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri sehingga terus bergantung pada bantuan orang lain.
- Menurunnya rasa percaya diri anak
Intervensi orangtua secara terus menerus dapat membuat anak berpikir bahwa ia tidak dipercaya dalam mengerjakan atau menyelesaikan sesuatu. Hal itu memicu anak menjadi tidak percaya pada kemampuan dirinya sendiri.
- Life skill tidak berkembang
Jika Bunda terlalu sering membantu anak menyelesaikan masalah, bahkan dalam hal sekecil apapun, membuat anak tidak akan berkembang. Bunda jadi membatasi si anak untuk belajar sesuatu yang baru.
- Akan mudah minder
Ketika Bunda terlalu membatasi ruang gerak anak, si anak akan mudah minder lho. Ketika yang lainnya mampu mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan dengan sendiri, sedangkan si anak harus bergantung dengan orang lain.
- Akan mudah di bully
Dampak ketika si anak terlalu di over-protective oleh orang tua adalah menjadikan anak kesulitan untuk bergaul atau bersosialisasi dengan yang lain. Hal ini lah si anak akan mendapat cap sebagai anak mama. Sehingga mudah saja bagi si anak mendapat bullyan dari teman-temannya.
- Membuat anak menjadi stres
Ketika sudah dewasa dan orang tua tetap mempraktekan pola asuh ini, maka efeknya akan membuat si anak menjadi stres. Stres dalam arti dia akan merasa tertekan karena harus apa-apa mendapat keputusan dari orang tua dan selalu ikut campur dengan masalah si anak.
Bunda tentu tidak inginkan jika si anak kelak akan menjadi pribadi yang manja dan tidak mampu beradaptasi dengan lingkunganya. Oleh karena itu berhentilah menerapkan pola asuh ini ya Bun. Berilah kepercayaan pada si anak bahwa dia bisa menyelesaikan setiap masalahnya dan jangan batasi ruang gerak anak agar mandiri. Namun, Bunda juga harus tetap memantaunya dan tawarkan bantuan jika si anak merasa kesulitan ya…